Jumat, 25 Maret 2011

Emulsi, Shampoo, LOTION LIGHTENING O/W, Cleansing cream

A.     Emulsi
         Emulsi  adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat yang terdispersi dalam cairan pembawa dan distabilkan oleh zat pengemulsinya atau surfaktan yang cocok ( Farmakope Indonesia Ed.III )
Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak dapat bercampur, biasanya terdiri dari minyak dan air, dimana cairan yang satu terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain. Dispersi ini tidak stabil, butir – butir ini bergabung ( koalesen ) dan membentuk dua lapisan yaitu air dan minyak yang terpisah yang dibantu oleh zat pengemulsi ( emulgator )  yang merupakan komponen yang paling penting untuk memperoleh emulsa yang stabil .
SEmua emulgator bekerja dengan membentuk film ( lapisan ) di sekeliling butir – butir tetesan yang terdispersi dan film ini berfungsi agar mencegah terjadinya koalesen dan terpisahnya cairan dispersi sebagai zat pemisah.. Terbentuk dua macam tipe emulsi yaitu tipe M/A dimana tetes minyak terdispersi dalam fase air dan tipe O/W (modifikasi : mineral oil (5%), propylene glycol( awal 5%) (5%), propylene paraben (awal 0,1%) (0.1%), stearyl alcohol (wal 3%) (4%), ekstrak timun (5%), glyseryl stearate (2%), sorbitol (2,5%), IPM (2%), lexemul AS (awal 5%) (15%), metal paraben (0,18%), air ad 100 %.) dimana fase intern adalah air dan fase ekstern adalah minyak .
ZAt-zat pengemulsi ( Emugator ) yang biasa digunakan adalah PGA, PGS, Gelatin, Tragacantha, Sapo, ammonium kwartener, senyawa kolestrol, Surfaktan seperti Tween dan Span, kuning telur atau merah telur, CMC..( standart : harrys cosmeticology. P.268), TEA, Sabun, dll.

Teori Emulsifikasi
Ada 3 teori tentang pembentukan emulsi , yaitu :
1.      Teori Tegangan Permukaan
Teori ini menjelaskan bahwa emulsi terjadi bila ditambahkan suatu substansi yang menurunkan tegangan antar muka diantara 2 cairan yang tidak bercampur .
2.      Teori Orientasi Bentuk Baji
Teori ini menjelaskan fenomena terbentuknya emulsi dengan dasar adanya kelarutan selektif dari bagian molekul emulgator, ada bagian yang bersifat suka terhadap air atau mudah larut dalam air ( hidrofil ) dan ada bagian yang suka dengan minyak atau larut dalam minyak ( Lifofil ) .
3.      Teori Film Plastik
Teori ini menjelaskan bahwa emulgator ini  mengendap pada permukan masing-masing butir tetesan fase dispersi dalam bentuk film yang plastis.( Farmasetika , 180 )
Surfaktan dapat membantu pembentukan emulsi dengan mengabsorpsi antar muka, dengan menurunkan tegangan iterfasial dan bekerja sebagai pelindung agar butir-butir tetesan tidak bersatu. Emulgator membantu terbentuknya emulsi dengan 3 jalan, yaitu :
                  1.      Penurunan tegangan  antar muka ( stabilisasi termodinamika ).
                  2.      Terbentuknya film antar muka yang kaku ( pelindung mekanik terhadap koalesen ).
                  3.      Terbentuknya lapisan ganda listrik, merupakan pelindung listrik dari pertikel.
Penggunaan Emulsi
Penggunaan Emulsi dibagi menjadi 2 golongan yaitu emulsi untuk pemakaian dalam dan emulsi untuk pemakaian luar. Emulsi untuk pemakaian dalam meliputi peroral atau injeksi intravena sedangkan untuk pemakaian luar digunakan pada kulit atau membran mukosa yaitu liniment, lotion, krim dan salep. Emulsi utuk penggunaan oral biasanya mempuyai tipe M/A. Emulgator merupakan film penutup dari minyak obat agar menutupi rasa obat yang tidak enak. Emulsi juga berfaedah untuk menaikkan absorpsi lemak melalui dinding usus. Emulsi parental banyak digunakan pada makanan dan minyak obat untuk hewan dan juga manusia.
EMulsi yang dipakai pada kulit sebagai obat luar bisa dibuat sebagai emulsi M/A atau A/M, tergantung pada berbagai faktor seperti sifat zat terapeutik yang akan dimasukkan ke dalam emulsi, keinginan untuk mendapatkan efek emolient atau pelembut jaringan dari preparat tersebut dan dengan keadaan permukaan kulit.. Cara pembuatanya dapat dengan Fase air (metal paraben, propel paraben, propilen glycol, air, ekst. Timun, texapon), Fase minyak (steryl alcohol, mineral oil, stearyl stearate, glyseryl sterarate, IPM), Buat ekstrak timun, Larutkan metal & propel paraben dlm PG, Larutkan texapon dengan sisa air, Panaskan fase air di atas WB, Campurkan semua fase minyak, Panaskan di ats WB, Masukkan fase minyak ked lm fase air dalam mortar panas
Zat obat yang mengiritasi kulit umumnya kurang mengiritasi jika ada dalam fase luar yang mengalami kontak langsung dengan kulit.
( Ansel , 377 )

Pembuatan Emulsi
Dalam membuat emulsi dapat dilakukan dengan 3 metode , yaitu :
                  1.      Metode Gom Basah ( Metode Inggris )
Yaitu dengan membuat mucilago yang kental dengn sedikit air lalu ditambahkan minyak sedikit demi sedikit dengan diaduk cepat. Bila emulsi terlalu kental, ditambahkan air sedikit demi sedikit agar mudah diaduk dan diaduk lagi ditambah sisa minyak. Bila semua minyak sudah masuk ditambahkan air sambil diaduk sampai volume yang dikehendaki.Cara ini digunakan terutama bila emulgator yang akan dipakai berupa cairan atau harus dilarutkan dulu dengan air.
                  2.      Metode Gom Kering
Metode ini juga disebut metode 4:2:1 ( 4 bagian minyak, 2 bagian air dan 1 bagian gom ), Selanjutnya sisa air dan bahan lain ditambahkan. Caranya ialah 4 bagian minyak dan 1 bagian gom diaduk dan dicampur dalam mortir yang kering dan bersih sampai tercampur benar, lalu ditambahkan 2 bagian air sampai terjadi corpus emulsi. Tambahkan sirup dan tambahkan sisa air sedikit demi sedikit, bila ada cairan alkohol hendaklah ditambahkan setelah diencerkan sebab alkohol dapat merusak emulsi .
                  3.      Metode HLB
Dalam hal ini berhubungan dengan sifat-sifat molekul surfaktan mengenal sifat relatif dari keseimbangan HLB ( Hydrophiel-Lyphopiel Balance ). ( Farmasetika , 186-187 )
Ketidakstabilan emulsi dapat digolongkan sebagai berikut , yaitu :
1.      Flokulasi dan Creaming
Merupakan pemisahan dari emulsi menjadi beberapa lapis cairan, dimana masing-masing lapis mengandung fase dispersi yang berbeda.
2.      Koalesen dan pecahnya emulsi ( Craking atau breaking )
Pecahnya emulsi yang bersifat tidak dapat kembali. Penggojokkan sederhana akan gagal untuk mengemulsi kembali butir-butir tetesan dalam bentuk emulsi yang stabil. 
3.      Inversi adalah peristiwa berubahnya tipe emulsi M/A ke tipa A/M atau sebaliknya .
( IMO , 148 )
A.           Shampoo
Shampoo adalah sabun cair yang digunakan untuk mencuci rambut dan kulit kepala yang terbuat dari campuran bahan – bahan alami ( tumbuhan ) atau zat-zat kimia. Pengertian lain dari sampo yaitu sediaan yang mengandung surfaktan dalam bentuk yang cocok berguna untuk menghilangkan kotoran dan lemak yang melekat pada rambut dan kulit kepala tidak membahayakan rambut, kulit kepala, dan kesehatan Si pemakai.
Semula sampo dibuat dari berbagai jenis bahan yang diperoleh dari sumber alam, seperti sari biji rerak, sari daging kelapa, dan sari abu merang (sekam padi).
Sampo yang menggunakan bahan alam sudah banyak ditinggalkan, dan diganti dengan sampo yang dibuat dari detergen, yakni “zat sabun” sintetik, sehingga saat ini jika orang berbicara mengenai sampo yang dimaksud adalah sampo yang dibuat dari detergen. Dan untuk sampo yang dibuat dari bahan lain, biasanya diberikan penjelasan seperlunya, misalnya sampo merang.
Agar sampo berfungsi sebagaimana disebutkan di atas, sampo harus memiliki sifat berikut :
1.      Sampo harus membentuk busa yang berlebih, yang terbentuk dengan cepat, lembut dan mudah dihilangkan dengan membilas dengan air.
2.      Sampo harus mempunyai sifat detergensi yang baik tetapi tidak berlebihan, karena jika tidak kulit kepala menjadi kering.
3.      Sampo harus dapat menghilangkan segala kotoran pada rambut, tetapi dapat mengganti lemak natural yang ikut tercuci dengan zat lipid yang ada di dalam komposisi sampo.
Kotoran rambut  yang dimaksud tentunya sangat kompleks yaitu : sekret dari kulit, sel kulit yang rusak, kotoran yang disebabkan oleh lingkungan dan sisa sediaan kosmetika.
4.      Tidak mengiritasi kulit kepala dan mata.
5.      Sampo harus tetap stabil. Sampo yang dibuat transparan tidak boleh menjadi keruh dalam penyimpanan. Viskosita dan pH-nya juga harus tetap konstan, sampo harus tidak terpengaruh oleh wadahnya ataupun jasadrenik dan dapat mempertahankan bau parfum yang ditambahkan ke dalamnya.
Detergen yang digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan sampo memiliki sifat fisikokimia tersendiri yang umumnya tidak sepenuhnya searah dengan ciri sifat yang dikehendaki untuk sampo. Umumnya, detergen dapat melarutkan lemak dan daya pembersih kuat, sehingga jika digunakan untuk keramas rambut, lemak rambut dapat hilang, rambut menjadi kering, kusam, dan mudah menjadi kusut, menyebabkan sukar diatur.
Sifat detergen yang terutama dikehendaki untuk sampo adalah kemampuan membangkitkan busa. Jenis detergen yang paling lazim diedarkan tergolong alkil sulfat, terutama laurilsulfat, juga alkohol monohidrat dengan rantai C 10 – 18.
Di samping itu detergen yang digunakan untuk pembuatan sampo, harus memiliki sifat berikut :
1.      harus bebas reaksi iritasi dan toksik, terutama pada kulit dan mata atau mukosa tertentu.
2.      Tidak boleh memberikan bau tidak enak, atau bau yang tidak mungkin ditutupi dengan baik.
3.      Warnanya tidak boleh menyolok.
Zat tambahan sampo
Zat tambahan sampo terdiri dari berbagai jenis zat, yang dikelompokkan sesuai dengan kesamaan fungsi yang diharapkan dalam formulasi sampo.
Alkilbromida asam lemak
      Digunakan untuk meningkatkan stabilitas busa dan memperbaiki viskosita. Zat ini merupakan hasil kondensasi asam lemak dengan monoetanolamina (MEA), dietanolamina (DEA), atau isopropanolamina yang sesuai. Zat ini juga menunjukkan sifat dengan mendispersi kerak sabun kalisium atau magnesium, dan mencegah pengerakan kedua jenis sabun itu pada kulit kepala dan rambut.

Lemak bulu domba, lanolin atau salah satu derivatnya, kolesterol, oleilalkohol, dan asetogliserida
       Digunakan untuk makud memperbaiki efek kondesioner detergen dasar sampo yang digunakan, sehingga rambut yang dikeramas-sampokan akan mudah diatur dan memberikan penampilan rambut yang serasi.
      Lanolin atau serbuk telur acapkali digunakan sebagai zat tambahan sampo dan dinyatakan khusus untuk maksud memberikan rambut berkilau dan mudah diatur.
Asam amino
Terutama asam amino esensial digunakan sebagai zat tambahan sampo dengan harapan, setelah rambut dikeramas-sampokan, zat ini akan tetap tertinggal pada kulit kepala dan rambut, dan berfungsi sebagai pelembab, karena asam amino memiliki sifat higroskopik yang akan memperbaiki kelembaban rambut.
Zat tambahan sampo lain
Terdiri dari berbagai jenis zat, umumya diharapkan untuk menimbulkan efek terhadap pembentukan dan stabilisasi busa; meliputi zat golongan glikol, polivinilpirolidon, karboksimetilselulosa, dan silikon cair, terutama yang kadarnya lebih kurang 4%.
Penyajian
Sampo disajikan dalam bebagai bentuk, meliputi bubuk, emulsi, krim atau pasta, dan larutan. Selain itu jga dapat disajikan dalam :
1.      Sampo bubuk
Sebagai dasar sampo digunakan sabun bubuk, sedangkan sebagai zat pengencer biasanya digunakan natrium karbonat, natrium bikarbonat, natrium seskuikarbonat, dinatrium fosfat atau boraks. Sampo jenis ini dapat dikombinasikan dengan zat warna alam hena atau kamomil, sehingga dapat memberikan sedikit efek pewarnaan pada rambut.
Agar dalam air sadah dapat berbusa, biasanya bubuk sabun diganti dengan natrium laurilsulfat.
1.      Sampo emulsi
Sampo ini mudah dituang, karena konsistensinya tidak begitu kental. Tergantung dari jenis zat tambahan yang digunakan, sampo ini diedarkan dengan berbagai nama seperti sampo lanolin, sampo telur, sampo protein, sampo brendi, sampo susu, sampo lemon atau bahkan sampo strawberry.
1.      Sampo krim atau pasta
Sebagai bahan dasar digunakan natrium alkilsulfat dari jenis alkohol rantai sedang yang dapat memberikan konsistensi kental. Untuk membuat sampo pasta dapat digunakan malam seperti setilalkohol sebagi pengental. Dan sebagai pemantap busa dapat digunakan dietanolamida minyak kelapa atau isopropanolamida laurat.
1.      Sampo larutan
Merupakan larutan jernih. Faktor yang harus diperhatikan dalam formulasi sampo ini meliputi, viskosita, warna, keharuman, pembentukan dan stabilitas busa dan pengawetan.
Zat pengawet yang lazim digunakan meliputi, 0,2% larutan formaldehida 40%, garam fenilraksa; kedua zat ini sangat beracun, sehingga perlu memperhatikan batas kadar yang ditetapkan pemerintah.
Parfum yang digunakan berkisar antara 0,3%-1,0%, tetapi umumnya berkadar 0,5%.
Cara pembuatan
1.      Sampo krim atau pasta
Detergen dipanaskan dengan air pada suhu pada lebih kurang 800 dalam panci dinding rangkap, sambil terus diaduk. Tambahkan zat malam, terus diaduk lebih kurang 15 menit. Biarkan campuran ini pada suhu lebih kurang 40-500C. Tambahkan parfum, aduk terus hingga homogen; lanjutkan pengadukan untuk menghilangkan udara. Wadahkan selagi panas.
1.      Sampo larutan
Jika digunakan alkilolamida, mula-mula zat ini dilarutkan dalam setengah bagian detergen yang digunakan dengan pemanasan hati-hati. Kemudian tambahkan sisa detergen sedikit demi sedikit, sambil terus diaduk; tambahkan zat warna yang telah dilarutkan dalam air secukupnya; jika masih terdapat sisa air tambahkan sedikit demi sedikit, sambil terus diaduk untuk mencegah terjadinya busa.
Shampoo yang baik
·        Harus dapat mencuci rambut dan kulit kepala dengan bersih dan tidak menimbulkan rangsangan
·        Harus mempunyai sifat detergent yang baik tetapi tidak membuat kulit kepala menjadi kering
·        Harus dapat menghasilkan rambut yang halus, mengkilat, tidak kasar, tidak mudah patah, serta mudah diatur
·        Harus memiliki konsistensi yang stabil, dapat menghasilkan busa dengan cepat, lembut, dan mudah dihilangkan dengan pembilasan
Jenis-jenis Shampoo
·        Liquid Shampoo (Sampo Cair)
·        Lotion Shampoo (Sampo Losio)
·        Creme paste Shampoo (Sampo Pasta Krim)
·        Gel Shampoo (Sampo Jeli)
·        Aerosol Shampoo (Sompo Erosol)
·        Dry Shampoo (Sampo Serbuk)
Bahan Utama
Bahan utama pada shampoo adalah surfaktan (sabun dan detergent)
Sabun adalah garam dan asam lemak
Hasil reaksi antara lemak dan minyak hewan dan tumbuhan dengan alkali (cth. NaOH, KOH)
Kekurangan : tidak membentuk busa oleh air sadah, diatasi dengan penambahan chelating agent
Surfactant (1)
a.       Anionik
·        Gol. Alkyl benzene sulfonat
Mis. Sodium dodecyl benzene sulfonate
·        Gol. Primary alkyl sulfat
Mis. Triethanolamine lauryl sulfate
·        Gol. Secondary alkyl sulfat
Mis. Lauryc monoglyceride ammonium sulfate
·        Gol. Sarcosine
Mis. Laurosyl sarcoine, Cocoyl sarcosine
Surfaktan
b.      Kationik
Garam amonium kuarterner
Mis. Dstearyl dimethyl ommonium chloride, dilauryl dimethyl ammonium chloride, cetyl trimethyl ammonium bromide
c.       Amfoterik
Mis. Miranol
d.      Non Ionik
Mis. Tween, Pluronic F-68
Bagaimana Shampoo bekerja
Surfaktan menurunkan tegangan permukaan air → meningkatkan kemampuan air untuk membasahi kotoran yang melekat (Ingat Makin kecil nilai tegangan permukaan air, makin besar kemampuan air membasahi benda).
Surfoktan bergerak di bawah lapisan berminyak → mengangkat dan permukaan → partikel berbentuk bola.
Bahan Tambahan
Ditambahkan ke dalam sampo untuk menghasilkan sampo yang aman memiliki viskositas yang baik, busa yang stabil, dan dapat mengoptimalkan kerja detergent
·        Opocifying agen
·        Clarifying agen
·        Foam builder
·        Conditioning agen
·        Thickening agen
·        Chelating agen
·        Preservotif
·        Active agent
Foam Builder
·        Bahan yang meningkatkan kualitas, volume, dan stabilitas busa
·        Membantu meningkatkan stabilitas dan efek kondisioner
·        Contoh : dodecyl benzene sulfonate, lauroyl monoethanolomide
Conditioning agent
·        Merupakan bahan berlemak yang memudahkan rambut untuk disisir
·        conditioning agent melapisi helai rambul → halus dan mengkilap
·        Harus mudah dibilas, tidak meninggalkan rasa berminyak (lengket) di rambut
·        contoh lanolin, minyak mineral, telur, polipeptida
Opacifying agent
·        Bahan yang memberikan warna buram pada shampoo
·        Penting pada pembuatan shampoo jenis krim & losio
·        Contoh : Cetyl alcohol, stearyl alcohol, spermaceti, glycol monodistearate, Mg stearate
Clarifying agent
·        bahan yang digunakan untuk mencegah kekeruhan pada shampoo
·        terutama untuk shampoo dengan bahan utama sabun
·        Penting pada pembuatan shampoo cair (likuid shampoo)
·        contoh : butil alkohol, isopropil alkohol etil alkohol, metilen glikol, EDTA
Cleating agen Sequestering agent
·        Bahan yang mencegah terbentuknya sabun Ca atau Mg karena air sadah
·        Contoh : asam sitrat, EDTA
·        Dapat digantikan oleh surfaktan non-ionik
Thickening agent
·        Bahan yang meningkatkan viskositas shampoo
·        Contoh : gom akasia, tragakan, CMC, Methocel
·        Kekurangan : dapat membentuk lapisan film pada helai rambut
Preservatif
Bahan yang berguna melindungi sampo dari mikroba yang dapat menyebabkan rusaknya sampo,
Harus dipilih
contoh : formadehid, etil alkohol, ester parahidroksibenzoat
Antidandruff agent
·        Antidandruff agent umumnya bersifat antimikroba
·        ditambahkan ke dalam shampoo dalam jumlah kecil
·        Contoh : Sulfur, Asam Salisilat, Resorsinol, Selenium Sulfida, Zink Piriton

Penunjang Stabilitas
·        Bahan-bahan tertentu dapat ditambahkan ke dalam sampo dengan tujuan menunjang stabilitas shampoo (stability additive)
·        Antioxidant
Mencegah perubahan warna dan bau sediaan akibat oksidosi,
·        Sunsreen
Melindungi sediaan dari sinar matahari, Contoh : Benzophenon
·        Suspending agent
Contoh : veegum, bentonit
·        pH control agen (larutan dapar)
Mencegah perubahan worna dan bau sediaan akibat perubahan pH
Cosmetics additive
·        Bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam sampo dengan tujuan memperbaiki tampilan shampoo (cosmetics adihtive)
·        Perfume
campurarl minyak atsiri atau sintetik
·        Pewarna (dye)
Pewarna yang digunakan harus terdaftar pada Federal Food, Drug, and Cosmetics Act
·        Pearlescent pigements

B.          Lotion
LOtion adalah Sediaan cair berupa suspensi atau dispersi yang digunakan sebagai obat luar dapat berbentuk suspensi zat padat dalam serbuk halus dengan bahan pensuspensi yang cocok , emulsi tipe o/w dengan surfaktan yang cocok.. Alasan modifikasi (Dipilih eks, timun karena bersifat alami sebagai lightening agent, dan tidak member efek samping pada kulit, Methyl parabnen digunakan sebagai kombinasi dengan propel paraben untuk mengurangi efek samping dengan aktivitas anti mikroba, Mineral oil ditambahkan sebagai emollient.) .. Cara pembuatan ekstrak timun : Serbuk timun ± 200 g à maserasi dengan etanol 70% à ekstrak cair à diuapkan dengan WB 500C à ekstrak kental à ambil 5 ml



tujuan pembuatan : membuat kulit tampak lebih cerah
Ciri-ciri Lotion :
v     Lebih mudah digunakan (penyebaran losio lebih merata daripada krim)
v     Lebih ekonoms (Lotio menyebar dalam lapisan tipis)
v     Ada 2 jenis Lotion :
-          Larutan detergen dalam air
-          EMulsi tipe o/w 


D.     Cleansing Cream
            Kegunaan Cleansing Cream adalah membersihkan make-up (rias wajah) dan lemak dari wajah dan leher. Krim pembersih adalah modifikasi dari cold cream (krim sejuk). Cold cream diformulasi oleh Galen (150 AD), terdiri atas campuran malam lebah, minyak zaitun dan air. Ada 2 jenis cleansing cream : tipe beeswax-borax dan tipe krim cair.
1.      Tipe Emulsi Beeswax-Borax
o       Formula populer untuk kim pembersih
o       Berwarna putih dan bebas dari butiran
o       Mudah mencair dan menyebar pada kulit
o       Mengandung mineral oil dalam jumlah besar
o       Tipe emulsi M/A        Inversi ke Tipe A/M pada kulit
2.      Tipe Krim Cair
o       Terdiri dari campuran minyak dan malam yang mencair jika dioleskan
o       Efek membersihkan sama dengan tipe beeswax-borax
o       Dapat ditambahkan emolien untuk meninggalkan lapisan berminyak pada kulit
o       Tampilannya tembus cahaya (translucent)
o       Untuk membuat tampilannya buram (opaque)      ditambah 2 % Zn O, TiO2, Mg stearat, atau Zn stearat
o       Ditujukan untuk kulit kering
Pada umumnya sediaan perawatan dan pembersih kulit terdapat dalam bentuk krim atau emulsi, dan yang akan dibicarakan dalam bab ini meliputi :
1.      Krim Penghapus dan Krim Dasar
2.      Krim Pembersih dan Krim Pendingin
3.      Krim Urut dan Krim Pelembut
4.      Krim Tangan dan Badan.
Ø      Krim Penghapus dan Krim Dasar
      Vanishing and Faundation Cream
            Krim penghapus adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud menghilangkan tatarias wajah, sehingga wajah menjadi bersih dan siap dilekati dengan krim dasar.
            Krim dasar adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud sebagai dasar tatarias wajah.
            Bahan : bahan yang digunakan mencakup zat manfaat dan zat tambahan, termasuk parfum dan zat warna.
Ø      Krim Pembersih dan Krim Pendingin
       Cleansing and Cold Cream
            Krim pembersih adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud menghilangkan kotoran yang larut dalam air maupun yang larut dalam minyak secara efisien.
            Krim pendingin adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud memberikan rasa dingin dan nyaman pada kulit.
            Ciri khas krim pendingin ialah kandungan airnya relatif banyak yang diikat dalam bentuk emulsi m-a.
Bahan : bahan yang digunakan mencakup zat manfaat dan zat tambahan, termasuk parfum dan zat pengawet.    
Ø      Krim Urut dan Krim Pelembut
   Massage and Emollient Creams
            Krim urut dan krim pelembut adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud memperbaiki kulit rusak karena suatu unsur atau bahan misalnya, detergen.
            Biasanya, krim ini tetinggal pada kulit untuk beberapa jam, umumnya semalam. Krim ini tidak boleh digosokkan karena terlalu cepat diabsorpsi melalui kulit. Krim yang tetinggal merupakan lapisan yang tidak boleh telalu ditekan atau cepat hilang karena gesekan dengan kain alas tidur.
            Dasar krim, terutama yang mengandung banyak minyak, yaitu air dalam minyak, krim lembut atau emulsi kental, mudah digunakan tetapi tidak mudah hilang. Krim sepeti ini akan lama tinggal di kulit, sehingga dapat melindungi kulit dan mengurangi penguapan air dari kulit. Makin lama tinggal di kulit makin banyak krim yang diaborpsi. Juga dapat berfungsi sebagai lubrikan dan sebagai emolien.
Bahan : bahan yang digunakan mencakup zat manfaat, antara lain emolien termasuk emolien alami yang larut dalam minyak,pelembab humektan, dan zat tambahan termasuk zat pengawet dan parfum.
Ø      Krim Tangan dan Badan
  Hand and Body Cream
            Krim tangan dan badan adalah sediaan dan kosmetika yang digunakan untuk maksud melindungi kulit supaya tetap halus dan lembut dan kering, bersisik dan mudah pecah.
            Kulit mengeluarkan lubrikan alami yaitu sebum, untuk mempertahankan agar permukaan kulit tetap lembut, lunak dan terlindung. Lapisan sebum dapat menjadi rusak atau hilang jika kulit dicuci atau dicelupkan dalam larutan sabun atau detergen.
            Jika sebum hilang sacara lebih cepat dari pada terbentuknya, kulit menjadi kering dan bersisik. Permukaan kulit dapat pecah, mempermudah masuknya bakteri, dapat terjadi infeksi, akhirnya kulit akan mengeluarkan cairan, jika dibiarkan dapat menyebabkan dermatitis.
            Kulit juga mengandung lapisan lemak yang berfungsi untuk mengontrol penguaan air, kulit juga mengeluarkan cairan pelembab alami. Keseimbangan kandungan kulit air dalam kulit sangat penting untuk diperhatikan.
            Pada umumnya kulit tahan terhadap penggunaan sabun dan air untuk waktu yang tidak terbatas. Kulit tidak tahan jika terus menerus terkena angin atau udara kering, atau terlalu sering dan terus menerus menggunakan sabun atau detergen, kecuali dilindungi dengan cara tertentu.
            Biasanya disajikan dalam bentuk krim dan krim cair atau emulsi.
Bahan : bahan yang digunakan mencakup zat emolien, zat sawar (barier), zat penutup untuk kulit yang berpori lebar, zat humektan, zat pengental dan pembentuk lapisan tipis, zat pengemulsi, zat pengawet, parfum, dn zat warna. RANCANGAN EVALUASi (Organoleptis, Homogenitas, Iritasi, Viskositas, Ukuran partikel, PH, Uji tipe emulsi, Densitas, Daya sebar, Kemudahan dibersihkan, Uji penetapan kadar bahan aktif)
(Formularium Kosmetika Indonesia, 1985, 330-357)

Daftar Pustaka
Anonim .1979 . Farmakope Indonesia Ed . III . Depkes RI : Jakarta
Anief. Farmasetika Gajah Mada University Press: Yogyakarta.
Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Ed 4. Universitas Indonesia Press: Jakarta.
Anonim.1985. Formularium Kosmetika Indonesia. Depkes RI : Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar